// // Leave a Comment

Jangan Ambil Nyawa Kakakku


Aku adalah seorang anak kecil yang bernama  Riky, usiaku tak lebih dari 7 tahun. Aku memiliki seoarang kakak laki- laki berusia 10 tahun  yang bernama Rozy yang terkadang baik padaku. Disekolahan aku terkenal dengan sebutan “Riky sang penakhluk” mungkin sebutan itu diberikan, karna aku sering sekali mencari masalah karena keegoisanku yang berujung dengan perkelahian dengan teman satu sekolahku.
Siang itu aku melihat Rozy yang sedang tidur di atas kasurku, yang berani-beraninya menggunakan selimut kesayanganku. Kakiku ku hentakkan kelantai tanda aku mulai marah, aku berlari memasuki kamar papanku,dan bersiap untuk melakukan hal biasa yang kulakuan pada rozy.  sesampainya disana , aku pun memukul nya, ku tarik rambutnya, aku cubit kakinya, ku jewer telinganya, tapi Rozy tak membalas perbuatanku. Ku tarik tarik selimutku,ku peluk erat selimut kesayanganku tapi rozy tak juga menatap mataku.

Aku terdiam saat aku lihat mukanya yang memerah, bibirnya mulai memucat,jantungku yang tadinya berdetak dengan cepat karena marah, sekarang mulai berdetak dengan pelan , aku mulai bingung, aku mendengar suara rozy yang halus yang kian lama kian mengilang.
“aku saakitt, panggilkan ibu”, aku tax percaya dengan perkataan rozy, dia tax pernah sakit sebelumnya aku fikir ini adalah taktiknya dalam permainan kami biasanya. bermain perang-perangan, tentara tentaraan, bahkan kami pun pernah pura-pura mati.
“ ah aku tak percaya padamu, kau pasti sedang merencanakn sesuatu untuk ku,” ujar ku. “sudah kubilang panggikan ibu” kata rozy yang tergeletak dikasur  tak berdaya.
“ibu sedang tak ada dirumah, mungkin masih diperjalanan pulang” kata ku sambil menghempaskan tubuh mungil ku dikasur empuk.

tak lama kemudian ibu pun pulang, aku menyambutnya dengan berteriak mengejar ibu dan memeluknya. Dan aku berkata pada ibu bahwasannya rozy sakit. Ibu pun mendatangi kakak ku rozy dengan cemasnya “apakah kau sakit, sini,, coba ibu periksa!” kata ibu dengan memegang kening kakakku.. “Astagaa, kau sakit nak, ayo kita kerumah sakit, berdirilah sayang!” teriak ibu
“bu, aku tax bias berdiri bu,. Tubuhku kaku  seperti batu, kepalaku pusing sekali,,” kata kakakku dengan suara lembut yang keluar dari bibir mungilnya. “ Ibu akan menggendongmu nak, naiklah kepunggung ibu,, kau harus berjanji, kau harus bertahan ya!!” ibuku semakin cemas dengan keadaan kakakku sekarang.
Yang ku pikirkan adalah ibu lebih mementingkan kakakku yang sakit dari pada aku. Mereka semua pergi meninggalkanku sendiri dirumah ini, aku takut, aku merasa tak ada guna, bahkan tak perlu diperhatikan dengan mereka semua. Yang dapat ku lakukan sekarang ini adalah menunggu mereka hingga mereka semua pulang.

************

Siang pun berganti malam, semua orang yang ada dirumahku belum menunjukkan tanda- tanda untuk pulang, aku melakukan semua hal dirumah ini sendirian, sesekali aku hidupkan TV duduk sofa panjang keluargaku, dan membalut seluruh tubuhku dengan selimut kesayanganku.
Tak sadar, aku pun tertidur… dalam lamunanku aku hanya berharap ayah, ibu, dan kakakku kembali dengan cepat sebelum pagi datang.
Tepat tengah malam aku mendengar suara orang dari balik pintu rumahku, suaranya terdengar jelas, namun tak bising ditelingaku, saat itu aku sadar, kalau aku tak sedang tidur, aku sadar ini adalah dunia nyata, selimut yang ada ditubuhku, perlahan ku tarik lebih dalam kemukaku, jantungku berdetak kencang, ku paksa agar mataku tak terbuka, kedua tanganku ku genggam erat, hatiku tak menentu, aku sangat ketakutan, yang kupikirkan adalah sosok arwah yang kesepian….
“tik,,tak,,tik,,tak,,” suara sepatunya semakin dekat kearahku,, ingin sekali aku berteriak kencang,, tapi seakan- akan mulutku terkunci rapat karna debaran jantungku, dan tiba tiba…… dia menarik selimutku ………. Seketika aku menjerit
“aaaaaaaaahhhhhhhhhhh” aku tax membuka mataku, aku menangis, terasa sesak saat ku bernafas ,tapi…..
“Riky,,.Riky,,. Tenanglah nak, ini ayah,,..” kata ayah yang langsung memeluk erat tubuhku..,
Aku pun menangis lebih keras lagi kedalam pelukan ayahku,, “ hikz kenapa kalian tinggalkan aku sendiri disini,, aku taku disini,,. Bagaimana dengan kakak, apakah dia baik-baik saja,, aku bersalah ayah, seharusnya aku tax melakukan nya, seharusnya aku tak berbuat yang jahat pada kakak “ kata ku sambil menenggelamkan mukaku ke bahu ayahku.
perasaan ku yang tadinya tak menentu, debaran jantung yang tax stabil, lama kelamaan mulai terkendali, ayah menenangkan ku, jantungku kembali berdetak seprti biasanya..

******

Pagi pun tiba…
Ayah mengantarkan ku pergi kesekolah pagi ini dengan mobilnya, aku segera masuk ke kelasku. Ku lihat seluruh  teman teman sekelasku dengan wajah sinisku, salah seorang teman ku yang kurang menyukai ku berkata padaku “hey riky apakah kamu diantar dengan ayahmu,,hahah bukankah itu tandanya kamu sama seperti kami, anak baby” selluruh org dikelas terkesan tertawa mengejekku.
Tak fikir panjang aku tarik baju yang ada dilehernya keatas, sehingga membuat kepalanya terangkat keatas “ apa maksudmu,,. Kaulah yang baby,, aku bukan baby.. kau belum kapok dengan pukulanku yang kemaren?? Apakah kau bosa hidup, aku bias buat kau masuk rumah sakit kali ini”
“ha? Coba saja kalau kau bias, kau fikir aku mau bertekuk lutut didepanmu,. M’f tidak” dengan wajah sinisnya

Amarahku tak dapat kupadamkan, rasanya gelombang pasang yang ada di darahku, perlahan mengajakku untuk hanyut kedalam keegoisanku, aku merasa dia tak bisa jaga mulut, enak enaknya saja dia mempermalukan ku diseluruh teman satu sekelasku terebih dihadapan wanita wanita cantik ini. Tak fikir panjang lagi, aku meyelesaikan semua ini dengan membantingnya ke lantai dan aku gulati dia dilantai, aku pukul mukanya dengan gumpalan tinju yang aku siapkan dari tadi, ku injak tubuhnya bahkan aku tarik rambutnya, aku fikir dia sudah menyerah, tetapi dia mencoba untuk melawanku, dia membanting tubuhku kelantai pula, aku terhenyak sesaat,,terdiam dalam kekalutanku….
Suara sorakan teman temanku membuat ku semakin ingin memukul nya,, aku merasakan kekuatan ku kembali, aku banting lagi temanku kelantai , hingga akhirnya guruku meleraikan pertarungan kami. Serasa tak puas,, aku mengadukan semuanya pada guruku, tapi guruku tak mendengar perkataanku, dia menganggap aku tak pantas untuk dipercayainya, aku adalah murid ternakal yang suka sekali berkelahi dengan teman satu sekolahku, jadi tak heran guru ku tak mempercayaiku..
Aku menganggap semua hal ini masa bodoh saja, aku tak peduli pendapat mereka, aku tak peduli apa kata orang lain, yang ku tahu hanyalah kepuasanku sendiri, mau suaka atau tidak, inilah cara hidupku……

******
Dilain sisi tepatnya dirumah sakit……
“ibu,benarkan, aku sdang  sakit?” suara rozy yang lembut kepada ibu. “ tenanglah nak, kau akan baik baik saja, setelah dari rumah sakit ini,kau dapat pulang dan menjalankan kegiatanmu seperti biasanya lagi yah!” bujuk ibu sambil mengelus ngelus kepala kakakku rozy.
“bias kau datang keruanganku sebentar?” kata dokter yang berada di depan pintu kamar kakakku.
Ibu pun mengikuti doker ke ruangannya ..
“ ini adalah hasil laboratoriumnya! Disini kita bisa lihat, warna putih dilayar ini adalah sebuah tumor yang bersarang diotak anakmu, dia akan mengalami pusing yang hebat dibagian kepalanya, dan terkadang  seluruh tubuhnya akan memucat, dan dia akan muntah muntah karena keadaan yang tidak stabil dibagian kepalanya, dan ini juga lama kelamaan akan merusak seluruh saraf yang ada disekeliling tumor ini, terutam pada saraf Mata, tumor ini akan merusak indra penglihatnya jika tidak cepat diatasi dan ini tidak bisa dibiarkan lebih lama berlarut, semakin cepat semakin baik kalau tidak……”
“kalau tidak dia akan mati maksudmu?” potong ibu…
“kami akan berusaha semaksimal mungkin, yang terpenting saat ini adalh melakukan hal yang terbaik untuk rozy anakmu, berikan dia semangat, kami akan melakukan yang terbaik untuk anakmu” kata dokter
Perlahan ibu meninggalkan rungan dokter, dan keluar duduk di kursi tunggu pasien, ibu menagis, sendiri tanpa ada orang disana, hanya ruang hampa dan kesunyianlah yang menyelimuti hatinya. Tapi saat itu sosok laki-laki menghampirinya, dan memegang pundaknya.
Ayah, iya ayah, datang menghampiri ibuku, dan duduk disamping ibuku. Membuat ruangan hampak tak bersuara penuh dengan perdebatan hebat diantara mereka berdua.
“ tenaglah, “ kata ayahku sambil memandang wajah ibuku
“bagaimana aku bisa tenag melihat keadaan anak ku yang sekarang ini, apa pedulimuu,,. Kau tak pernah memikirkan anak anak mu, aku harus mengambil beban berat ini sendiri, bahan menyelesaikan setiap masal ini sendiri,,, aku tidak merasakan adanya kau,, apakah kau tak merasa memiliki anak anak mu?” teriak ibu pada ayah,
“aku peduli pada kalian semua,  aku,….mengerti perasaan mu, aku akan melakukan hal yang terbaik untuk kalian, aku akan berusaha berusaha semaksimal mungkin untuk rozy anakku, kau harus yakin, tuhan ada bersama kita, rozy tidak akan kenapa napa, dia akan baik baik saja” kata ayah, sambil mengapus air mata ibuku yang membanjiri pipinya.
Saat itu di ruangan Rozy…..
“ hey, kak rozy, apakah kau tak bosan tidur disini?” kataku sambil menaiki kasur kakak ku. “hemm,, kurasa begitu, tapi, aku sedang sakit riky” kata kakak. “sebegitu parahkah penyakitmu?” tanyaku sambil mendekatkan mukaku ke kakakku.
“entahlah, kata ibu ada benda asing di atas kepalaku” kata kakakku sambil menunjukkan kea rah kepalanya. “apa itu,,.. Rambutmu kah,,haha” kata ku sambil tertawa,,
“hem,, mungkinlah,,” jawab kak rozy sambil tertawa.
Aku tak ambil pusing dengan seberapa parahnya penyakit yang diderita oleh kakakku, yang ku inginkan adalh aku ingin bermain bersama kak rozy……..
“ayo,,.kita pulang,. “ kata ibu yang menyimpan rasa sedihnya pada kami semua. “ha? Benarkah bu, kakak sudah bias pulang, kata kakak ada benda asing di atas kepalanya, apa itu bu? Tanya heranku pada ibuku.
“benda itu sesuatu yang membuat kakakmu sakit riky, tapi sekarang doketr sudah mengizinkan kak rozy pulang..jadi kita bias berkumpul bersama sama lagi” senyum ibu
Aku pun hanya  mengiyakannya saja, anak kecil seperti aku, tak tahu apa apa urusan orang dewas.

************

Saat dirumah 1 hari kemudian
Aku melihat kedua orang tuaku lebih memberikan perhatian pada kak rozy, seakan aku tak ada diantara mereka, semuanya serba kak rozy, aku tax boleh berbicara keras lah, aku tak boleh menggunakan handuk khusus kak rozy lah, seakan akan kak rozy adalahi seoarang pangeran yang segala sesuatunya dapat dia dapatkan.
Saat disekolah pun aku tak enak perasaan dengan teman temanku, saat itu salah seorang teman ku bernama  Deigo tak ingin meminjamkan ku kelereng yang dia miliki. Aku memaksanya untuk memberikan kelereng itu untuku, tapi dia tak mau juga memberikannya padaku, tanpa fikir panjang, aku langsung merebut kelereng itu dari tangan Diego.
“kau tak punya perasaan Riky, siapa yang mau bermain denganmu?, kami tak akan mau main bersamamu lagi” teriak diego sambil meninggalkan aku sendiri di lapangan kecil tempat bermain kelerng  ini.  “ pergi saja kalian dari sini,aku tak membutuhkan kalian disini, “ aku pun membalas dengan perkataan kasar yang telah kurangkai sebelumnya.
Tapi lama kelamaan aku, mulai bosan dengan semua ini, dengan  perkataan perkataan yg tak enak kudengar selama ini,  aku membantingkan kelereng yang kurebut dengan diego tadi kelantai sekuat tenaga yang aku miliki. Dan aku pun pergi dari tempat ini menggunakan sepatu roda yang ku miliki dengan emosi yang belum redah.

Sepulang dirumah, dengan emosi yang masih belum dapat ku redam, kulihat di kamar mandi, sebuah handuk khusus untuk kakak rozy tergantung rapi di jemurannya ,aku pandangi handuk itu dengan penuh kemarahan, dengan kesalnya aku menarik handuk yang tak boleh aku pakai itu ke depan mukaku, dan aku pun mengelap mukaku dengan kesalny menggunakan handuk itu, dan aku bantingkan handuk itu ke lantai kamar mandiku. Dan aku pun bergegas  meninggalkan handuk itu dengan keadaan tak wajarnya dengan jantung berdebar kecang
dirumah ini aku hanya diam dan diam saja, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Seakan akan semua kesalahan tertuju padaku.  Aku berdiri diujung tiang tembok yang mengarah langsung ke depan kamar kakak ku rozy, aku melihat kak rozy muntah –muntah,…. ibu dan ayah pun sibuk dibuatnya.
“sepertinya keadaanya semakin memburuk” kata ibu .“ku rasa begitu” kata ayah dengan paniknya. “aku tak bias menahan lagi, Aku har us membawa anakku ke rumah sakit” kata ibuku yang langsung menggendong kakakku ke punggung nya dan lewat begitu saja dihadapanku.
Ayah pun akan lewat dihadapanku saat ini, tentu saja aku menghadangnya dan aku mengatakan semua perlakuanku yang jahat pada kakak ku sendiri,
 “ ayah, , maafkan aku ayah” teriakku “ ada apa Riky, kakakmu sedang sakit” kata ayah sambil menggendongku dan memelukku ke dalam dadanya.
“aku adik yang jahat,ini semua gara gara aku, aku menggunakan handuk khusus untuk kakak rozy, ini semua salah ku ayah, akibatnya,,kak rozy harus dibawa kerumah sakit lagi, aku salah ayah,,.” Aku pun perlahan menangis tersedu sedu,karma perbuatan egoisku.
                “baguslah kalau riky sudah menyadarinya, mulai sekarang kau harus baik baik ya dengan kakakmu ,. Kak rozy itu sedang sakit, sakit sekali.. sakit nya ad da di sini, tepat diotaknya.” bujuk ayah kepada aku.
                Perasaanku mulai tenang dengan perkataan ayah, tapi hati ku belum tenang karena kakak yang harus dirawat inap di rumah sakit lagi.

******
                “lingkaran yang berwarna putih ini semakin membesar, kita harus segera lakukan operasi besar, sebelum tumor ini dapat menghabiskan seluruuh saraf saraf yang ada disekitarnya.” Kata dokter sambil menunjukkan hasil laboratoriumnya.
                Aku tahu saat itu pasti perasaan ibuu sangat sakit, ibu harus pergi ke BanK untuk mengambil sebagian uang tabungannya selama  ini untuk biaya operasi  kakak ku. Bahkan mobil ku pun akan dijual jika nanti biayanya kurang.
                Aku tak tahu apa apa, tapi aku tahu keluarga ku sedang diuji oleh tuhan.
                “hey, kak, bagaimana keadaanmu?” Tanya ku pada kakakku.
Dengan senyum manis yang tergambar pada wajah lugunya dia menjawab kalau dia baik baik saja, padahal aku tahu, dia lagi menahan rasa sakit yang luar biasa.
                “riky, aku harus dioperasi besok, Ada benda jahat di atas kepalaku, dan itu harus disingkirkan, kau akan menungguku bukan ?” Tanya kak rozy dengan mata yang tertuju tajam padaku.
“iya,tentu” dengan perlahan aku katakana padanya, tak berani menentang kata satupun yang keluar dari bibir ,mungilnya. “ tapi berjanjilah ,. Kau akn bermain bersamaku saat kau sadar nanti yah” teriakku pada kak rozy
                Kak rozy pun,hanya dapat tersenyum manis pada ku menggap ini hanyalah sebuah permainan, dan hanya sebuah tidur disiang harinya, dan dia akan terbangun nantinya.

***********

                “rozy, bsok kau akan dioperasi dibagian kepalamu ini, bagaiman dengan rambutmu?” Tanya ayah ku pada kakakku.  “potong saja ayah, “ kata kakakku dengan suara pelan namun tegas.  “ sebagian sajakah??” Tanya ayah sambbil mencukur rambut kakak ku satu demi satu merasa tak yakin dengan jawaban anaknya.
                “potong saja semua ayH!” tegas kakakku dengan suara yang sedikit gemetar.
“ha? Apakah kau serius buat rambutmu botak” Tanya ayah sekali lagi  merasa belum yakin dengan keputusan kakakku. “iya ayah, potong saja” sambil terseyum kak rozy melihat mata ayah dari sebuah kaca besar yang ada dihadapannya.
                “oh baiklah, kalau iu yang kau inginkan” dengan sedikit keraguan ayah mencukur rambut kak rozy, dan alat cukur ayah mulai berjalan diatas kepala kakaku, seakan tak memberi  ampun pada rambut kakaku yang pasrah dengan yang dilakukannya
Aku tahu perasaan kakakku saat ini sangat sedih, pilu terasa didalam dada.. Dulu kakakku sangat menyukai gaya rambutnya seperti yang sekarang ini, seakan inilah jati dirinyya dengan rambut yang dapat menarik setiap orang untuk melihat nya, tapi sekarang kakak harus rela mencukur semua rambutnya.
Terlihat jelas saat Kulihat dari sebuah kaca besar yang terpampang  jelas dihadapannya, wajah kakak yang tadinya tesenyum berubah menjadi suram dan mulai mengalirkan air mata ke sedihan akan nasib  hidupnya, dan harus meninggalkan rambut kesayangan yang dia miliki. matanya berbinar, saat ayah mulai mencukur rabut poni indahnya yang membuat dia tampak manis, menandakan betapa beratnya hidup yang ia jalani selama ini dengan senyum palsunya.
                Tapi apalah daya seorang kak rozy, dengan segala derita hidup yang sedang dia alami, dia akan berusaha tetap tersenyum pada kami, seolah olah dia tak merasakan sakit sedikit pun, seoalah olah, dia dapat hidup normal, seperti anak anak yang lainnya.
                Itulah yang membuatku bangga padanya, terkadang aku sering kali menyakitinya, berbuat kasar padanya, mengatai dia dengan perkatatan yan g tak enak didengar, tapiii,,,,, jarang sekali dia melakuakn hal yang serupa padaku walaupun aku tahu perasaannya saat itu………

********

                Diatas kursi roda,, kakakku dengan sebuah topi besar diatas  kepalanya tampak lesu dan murung. Ibuku yang berada dibelakang kakaku mendorong kursi roda mulai resah pada kak rozy dan mencoba bertanya kepada kakak, tapi kak rozy tak mengeluakan satu kata pun yang keluar dari bibirnya.
                “menagapa kau tak bicara, mengapa kau tak menjawab pertanyaanku, apakah kau tak mendengarkanku, aku ini ibumu, jangan kau diam seperti ini, ini hanya akan mempersulit keadaanku saja!!” kata ibu dengan nada tinggi.
                Tangan kak rozy yang tadinya rapi didepan pangkuannya, tiba tiba turun dan memberhentikan jalannya kursi roda itu. Dan terasa cairan hangat mengalir dari kedua mata kakakku melewati bulu mata lentiknya dan perlahan lahan membasahi kedua pipi manisnya, seketika muka kakakku berubah menjadi pucat.
“ibu tak mengerti perasaanku, ibu tak tahu bagaimana rasa sakit yang ku derita, aku sudah sabar dengan penderitaan ku ini. Aku sakit bu, aku sakit,!! aku tahu penyakit ku ni ,sewaktu waktu dapat mengancam nyawaku. Aku mohon bu, selama ini aku sudah bersabar, dan berusaha melawan takdir yang telah digariskan padaku. TApii…”
                Cepat cepat ibu memeluk kak rozy , “ibu tahu nak, maafkan ibumu ini nak, ibu akan berusahan semaksimal mungkin untuk kembalikan kehidupanmu seperti dulu” . isak tangis keluarga ku pun tak terbendung lagi dengan segala keadaan serba prihatin. Aku yang masih kecil ini tak tahu dapt melakukan hal yang berguna bagi kakaku. Yang ku harapkan, adalah semoga kak rozy dapat sembuh dan dapat tersenyum seperti biasanya.

********
                Pagi ini kakakku akan operasi besar , terlihat  kakakku yang  sedang trbaring diatas ranjang nya dengan kepala terpasang bermacam warna kabel. Aku sedikit aneh melihatnya,ku bilang dia seperti robot. Tapi kak rozy malah tertawa kepadaku, entah dia meledekku atau karna perkataanku. Saat ini aku ,ibu ,ayah masih dapat melihat nya, dan mencoba untuk menghibur nya. Tetapi saat pintu ruang operasi telah dibuka perlahan dan kakakku mulai digiring kedalam ruangan aku mulai takut . ayah ku yang mengetahui ku yang sedang ketakutan melihat kakakku ,langsung memelukku erat erat.
                Dari jauh ibuku berteriak pada kakakku “ kau tidak akan merasakaan sakit nak, kau hanya akan tidur dan bermimpi indah, dank au akan terbangun dari mimpi panjangmu nak” . entah apa arti dari yang dikatakan ibu, aku tak tahu, ku fikir kak rozy , akan tidur dan akan bangun seperti biasa yang aku lakukan sehari hari. Aku hanya berharap kak rozy akan keluar dari ruangan dingin ini.

******

                Aku diantar ayahku ke sekolah, walaupun sekarang kak rozy sedang melakukan operasi besar, tapi aku masih saja disuruh untuk sekolah, padahal kan aku mau  tunggu kak rozy bangun dari mimpinya, dan aku ingin bertanya apa yang dia rasakan di atas kepalanya itu.
                “beljarlah yang benar” kata ayah padaku. “ ahh,, ayah, kapan operasinya selesai?” Tanya ku pada ayahku. “ mungkin jam 11 nanti selesai, ayah harus segera kerumah sakit, menemani ibumu, kau disini belajarlah yang baik” jawab ayah. “ ah, ia aku akan langsung kerumah sakit kalau sudah pulang “ Kataku dan segera meluncur dengan sepatu roda kesayanganku.
                Pagi ini dikelas,  aku bermain dengan temanku dikelas. Terlihat salah seorang temanku yang baik diamata guru dan teman teman ku lainnya, sebut saja namanya Yogi,, dia berjalan perlahan dengan kaca mata besarnya membawa sebuah buku kesukaannya dan menghampiri aku.
                “ katanya, kakakmu sedang dioperasi ya?, “ Tanya yogi dengan lembutnya. Aku yang tak senang dengan penampilan konyolnya segera berdiri dari tempatku. Dan berkata dengan nada tinggi pada yogi  “ kalau iya kenapa? apA URUSanMU!!” dengan nada keras aku katakana pada Yogi dan membantingkan Buku kesayangannya didepan mata kepalanya.
Seketika aku keluar dari kelas dan menenangkan diriku sendiri dibawah pohon taman belakang sekolahanku. Yogi tak merenspon buruk  pada perlakuanku padanya barusan, dia dengan perlahan mengambil buku yang telah ku bantingkan ke lantai dan memasukkannya kedalam tas.

**********

                Sedikit demi sedikit jari jemarinya mulai bergerak, bulu mata lentiknya mulai bermain main dikelopak matanya, bibirnya mulai bergerak seperti akan mengatakan sesuatu, dan akhirnya kedua bola mata yang kutunggu akhirnya terbuka.
“ apakah kau mengingatku” tanyaku pada kak rozy. Terlihat kakakku sedang mengingat wajah adik kesayangannya dan kak rozy berkata “ tentu saja ,kau riky nakal dan jahil” perlahan suara kak rozy menggemma di telingaku. Seketika aku tersenyum lebar pada kakakku,dan aku langsung melihat wajah kedua orang tua ku, memberi  isyarat   bahwa kak rozy menginatku.  aku merasakan kerinduan yang amat mendalam pada nya.  Rasa tak percaya ini masih saja menghantui keluargaku , terutama pada hati kecilku, sudah 3 hari kak rozy tertidur dan bermimpi panjang, dan pada akhirnya hari, ini dia terbangun saat melihat wajah ku yang nakal ini.
“bagaimana nak apakah kau merasakan sesuatu?” Tanya ibu pada kak rozy. “entahlah bu.. sepertinya aku lebih baik dari sebelumnya, ibu tak perlu khawatir dengan keadaanku” jawab rozy sambil tersenyum tipis pda ibu,
Aku membuka tas ransel kecil ku di sudut ruangan, ku ambil sebuah kartu mainan ku yang paling aku sukai dan aku selipkan kedalam sebuah buku bacaan yang sering dibaca Kakakku. Berharap kak rozy akan menyukai pemberianku padanya , karena aku tahu, dari dulu kak rozy sangat menginginkan kartu itu.
 Tetapi dulu waktu  ia masih dalam keadaan sehat aku tak mau memberikannya bahkan meminjamkan pada kak rozy , tapi sekarang keadaan berubah,aku  hanya ingin melakukan hal yang terbaik untuk kak rozy, walaupun aku harus mengorbankan kartu kesayanganku untuk nya. Aku akan belajar meredam keegoisan ku pada kak rozy karna aku telah berjanji pada ayah, akan memperbaiki sikap ku pada kak rozy.
“aku tahu kau menyukai buku ini,, ini aku bawakkan untuk mu” aku yang memberikan buku kesayangan kak rozy berharap kak rozy akan senang dengan pemberianku. Kulihat kak rozy membuka bukunya lembar demi lembar, dan sebuah kartu yang ku selipkan dibuku itu akhirnya dapat ditemukannya dari halaman bukunya.
“ itu adalah kartu yang sangat kau inginkan dariku, kau boleh memilikinya” kataku yang belaga cuek pada kak rozy.  “wah BLACK HUNTER ,, apakah ini untuk ku ? wah sejak kapan kau baik padaku?” kata kak rozy sambil tersenyum.

Aku yang melihatnya tersenyum seakan akan mengajakku untuk tersenyum pula. Dalam hati kecilku, aku bahagia, dapat membuat kak rozy tersenyum karna ku, dan ternyata membuat orang lain tersenyum karna kita itu sesuatu hal yang menyenagkan.

Tak lama setelah aku memberikan kartu kesayangan ku pada kak rozy, kejadian diluar fikiranku membuat keegoisanku pada orang lain semakin menjadi. Saat itu kak rozy memiliki seorang teman baru di rumah sakit ini dia adalah salah satu pasien penyakit tumor otak seperti kakakku, sebut saja dia adalah “roku”
Ku lihat mereka berdua semakin akrab saja, sehingga membuatku cemburu karena kedekatan roku dengan kak rozy. Terlebih lagi saat kak rozy memberikan kartu kesayanganku pada roku didepan mata kepalaku.
Saat itu…….
“inih , untukmu apakah kau menyukainya,,. Kau dapat memilikinya” kata kak rozy sambil memberikan kartu BLACK HUNTER ku pada Roku.
“ wah BLACK HUNTER, ini bagus, sudah lama sekali aku mencarinya dimana kau dapatkan? Wah benarkah ini untuk ku , kau begitu baik rozy, terimakasih yah” kata Roku pada rozy yang begitu senang mendapatkan kartu baru ku.
Aku yang melihatnya langsung saja menghampiri mereka berdua, dan merebut kartuku yang berda ditangan Roku..
“ ini milikku, kau tak pantas untuk memilikinya, anak desa seperti kamu, tak mengerti apa apa” aku yang marah begitu saja pada roku,berharap kak rozy dapat membela perlakuanku. Tapi ternyata kak rozy malah memarahiku.
“riky, kau begiu jahat padanya, bukankah kartu itu milikku sekarang, bukankah kau telah memberikannya pada ku tadi, kau tak berhak mengambilnya, kembalikan padaku” kak rozy seketika mengambil kembali kartu yang berada pada genggamanku.
“ ini semua salhmu,, kak rozy lebih membelamu, kau membuat ini semua jadi rumit, kau tak pantas memiliki kartu ku, kau tak pantas mendekati kakakku.” kataku sambil memegang bahu roku yang masih dalam keadaan lemah, dan mengguncangkan kedua bahunya sekuat tenagaku.
Aku terus berteriak pada roku, dan membuat kepalanya terangkat keatas, dan tertunduk kebawah, hingga pada akhirnya kepala roku perlahan terangkat ke atas dan melihat wajahku, aku segera menghentikan guncangan yang kulakukan,. Kulihat cairan berwarna merah kental mengalir dari lubang hidungnya, roku tak menangis, roku malah mencoba menghapus cairan merah itu dari hidungnya, dan tanpa banyak bicara, dan tanpa ada perkataan yan keluar dari mulutnya, dia langsung meninggalkan ku , dan berjalan menuju ruangan inapnya.

Aku yang sedang marah, bertambah kesal melihat kakaku yang malah meninggalkanku sendiri diruangan ini , “kau jahat riky” kata kak rozy, dan berbalik berjalan meninggalkan tempat ku berdiri.
Aku merasa seperti tak berharga dihadapan mereka semua, seakan akan yang ku lakukan tak pernah benar, padahal aku sudah berusaha untuk membuat kak rozy menyukaiku, dengan mengorbankan kartu kesayanganku, tapi pada kahirnya malah aku lagi yang tak benar dihadapannya.
Betapa kesalnya aku, semua rencana yang ku susun rapi, yang berharap kak rozy dapat menyukai ku kembali, malah berbalik membenci ku. Perlahan aku berjlan memasuki sebuah ruang kecil dengan cahaya remang remang semakin membuat hatiku kian larut dalam kegelisahan ini, tak henti hentinya kau meneteskan air mata hingga membasahi kedua pipi ku yang kian lama kian merona.
Aku yang berada disudut ruangan mendengarkan sebuah Langkah seseorang  yang tak asing lagi kudengar. “tik,,tak,,tik,,,tak” suara langkah itu kian lama kian mendekatiku, tapi ku tak menghiraukan dengan perasaan tak stabil seperti ini.
Sekarang suaranya terhenti, dan tangan kanannya bergerak perlahan kearah bahuku. Aku yang terus menangis, tak juga ingin mengangkat mukaku  kehadapannya.
“Riky” kata kakakku dengan suara iba dan lembut.  Aku tak menjawab , aku terus menangis. Hingga membuatku sulit untuk mengatur nafasku.
“Riky, riky” suara kakakku yang begitu lembut, seakan mengejekku yang sedang menangis. Dan dengan cepat ku berdiri dari sudut ruangan dan berteriak pada kakakku “kau tak mengerti  perasaanku, aku kau lebih membela nya dari pada ku, aku telah mengorbankan kartu BLACK HUNTER ku, untuk mu, tapi kau malah memberikannya untuk anak itu. Apakah kau tak tahu betapa sulitnya hidup yang aku jalanai sekarang ini. Aku hanya ingin membuat kau kembali menyukaiku, tapi nyatanya kau malah membenciku. Aku tak pantas di sini bersamamu” dengan segera aku berlari melewati sebuah pintu kecil dan meninggalkan kakaku di ruangan kosong itu sendirian.

*******

Saat itu diruangan inap kakakku…
Diruang inap kakaku ,, ku lihat kakakku bersama roku sedang nonton Tv bersama, aku yang tak berani mendekati mereka hanya melihat mereka dari  arah yang cukup jauh namun dapat diketahui mereka keberadaanku saat itu.
Mereka seperti adik kakak yang akur pikirku saat itu, tak seperti aku dengan kak rozy yang terkadang saja bias dapat baik satu sama lain. Lamunanku yang tertuju pada mereka berdua pecah ketika kak rozy melihat kearah ku dan tersenyum padaku, dan melambaikan tangannya seperti ingin  mengajakku untuk menonton tv bersama mereka. aku yang baru sadar keberadaan kak rozy ,langsung saja aku menggelengkan kepalaku, tanda aku tak ingin menonton tv bersama mereka.
Terlintas diotakku sebuah benda yang tak asing lagi bagi ku,  benda itu adalah sepatu roda ku. Entah kenapa aku langsung kepikiran dengan sepatu roda yang kumiliki, tanpa sadar malah sekarang senyum tipis tergambar dibibirku, tanda aku memiliki ide yang bagus untuk menarik perhatian kakak rozy ku.
aku pun mulai menggunakan sepatu rodaku, disudut ruangan inap kakakku. Dan aku mulai menjalankan rencana ku untuk menarik perhatian kakkaku. Agar dia ingin bermain denganku daripada dengan roku teman barunya itu.

aku mulai memasuki ruangan tempat kakakku menonton tv.  Aku mulai memutar tubuh mungil ku, bergaya seprti penari yang berada di atas sepatu rodanya. Bermain akrobati seperti para badud yang lucu dan handal. Semua org yang ada di daalam ruangan ini pun mulai menyoraki ku tanda mereka menyukai penampilanku.
Aku pun melihat dari kejahuan kakakku dan roku mulai mendekatiku. Dan mereka tersenyum melihatku. melihat kak rozy tersenyum, seakan mengajakku untuk ikut tersenyum bersamanya.  Aku merasa sangat senang melihat  kakakku, yang dapat tersenyum kembali karena hal yang kulakukan ini.
 Tapi semua tak lah lama, ketika Roku anak kampungan itu ingin meminjam sepatu rodaku pada kakakku. Kak rozy yang baik hati tentu saja menuruti keinginan teman barunya dibandingkan perasaanku. Awalnya aku tak mau memberikan sepatu roda kesayanganku pada roku, tapi kak rozy seakan selalu memaksa ku untuk dapat memberikannya.
“ayolah riky, kau telah lama memainkannya, pinjamkanlah sebentar pada roku. Lihatlah dia kasihan , dia ingin menggunakannya sebentar saja” bujuk kak rozy pada ku.
Kulihat wajah roku yang masam, yang ingin sekali menggunakan sepatu roda ku ini, membuat aku menuruti kata kakakku rozy, dan aku pun melepaskan sepatu rodaku dari kaki mungilku dan memberikan nya pada roku.
Malah sekarang aku hanya bisa melihat mereka berdua lagi, bermain bersama sepatu roda ku. Kak rozy seakan ingin sekali mengajari roku bermain sepatu rodaku itu, terlihat jelas  dari sikap kakkku padanya. Kulihat kakakku  memegang kedua tangan roku , yang perlahan berjalan menggunakan sepatu roda ku itu.
Aku pun kembali posisi awalku, dengan lamunanku yang panjang. Aku benar benar tak menuyukai roku, aku fikir roku benar benar telah mengambil kak rozy dari  kehidupanku. Dan itu membuat ku sangat kesal karna perlakuannya terhadapku.

********

Keesokan harinya..
Ku lihat ibu roku memasuki ruangan dengan menangis pilu, aku yang baru saja masuk kedalam ruangan tentu saja terkejut melihat ibunya menangis. Ku lihat perlahan ,, berjalan dengan pelan, takut membuat kebisingan yang dapat menmbah beban orang tuanya.
Dan ternyata, roku yang sangat ku benci itu, tergeletak diatas kasurnya dalam keadaan koma. Aku sanagt terkejut,……. Jantungku berdetak kencang, dengan mata yang tak berkedip sedikitpun, melihat keadaannya serba memprihatinkan.  Seluruh alat medis terpasang pada tubuhnya, alat bantuan pernafasan, kabel yang berwarna warni ditubuhnya, bahkan salurang makanan yang terpasang dihidungnya semakin  membuat ku perlahan mulai kasihan padanya,dan menyesali semua hal ini setelah apa yang telah aku lakukan padanya kemarin.

 Air mataku pun mulai mengalir.  Perasaan bersalah Tak membiarkan dia memiliki kartu BLACK HUNTER kesayanganku, dan mengikhlaskan sepatu rodaku untuk roku mainkannya saat dia tak seperti ini terus menghantui ku. Aku ssangat menyesal. Perlahan aku mulai menyukainya, dan kasihan pada roku, aku telah berjanji pada diri ku sendiri, aku akan membuat hari harinya penuh tawa bersama kak rozy dan kalau bisa aku pun ingin mejadi salah satu hal yang menyebabkan senyuman itu.
******
Bersambung....

Reaksimu?

Share ya kalau suka

Tentang Penulis

0 komentar:

Catat Komen

close